News Mamuju — Sebuah peristiwa memilukan terjadi di wilayah pedalaman Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Seorang perempuan bernama Ramlah (38), warga Dusun Tandeallo, Desa Salulebo, Kecamatan Bonehau, mengalami pendarahan hebat dan terpaksa ditandu sejauh 21 kilometer melintasi sungai dan jalan berlumpur untuk mendapatkan pertolongan medis di puskesmas terdekat.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (6/11/2025) malam dan berlangsung hingga Kamis dini hari. Karena tidak ada akses kendaraan yang bisa mencapai desa tersebut akibat kondisi jalan rusak berat, warga bergotong royong menandu Ramlah menggunakan tandu dari bambu dan kain sarung.
Baca Juga : Kapolri dan Titiek Soeharto Tinjau SPPG di Karanganyar, Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Perjuangan Menembus Gelap dan Lumpur
Salah seorang warga yang ikut menandu, Hasan, menceritakan perjuangan mereka membawa Ramlah di tengah malam sambil menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras.
“Kami mulai menandu sekitar pukul 8 malam dan baru tiba di puskesmas hampir jam 3 pagi. Jalannya berlumpur dan licin, jadi harus hati-hati. Kami takut dia kehabisan darah di jalan,” tutur Hasan dengan nada lelah.
Warga bahkan harus menyalakan obor dan senter seadanya di tengah perjalanan panjang. Beberapa kali tandu nyaris terbalik karena medan yang curam dan licin.
Setelah tiba di Puskesmas Bonehau, Ramlah langsung mendapat perawatan intensif sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Mamuju menggunakan ambulans.
Akses Medis di Pedalaman Jadi Sorotan
Kepala Desa Salulebo, Matius, menyayangkan kondisi akses jalan yang hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Setiap kali ada warga sakit parah, kami hanya bisa menandu. Jalan menuju desa kami belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Ini sudah sering kami laporkan,” ujarnya.
Menurutnya, desa tersebut hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor trail saat musim kering, sementara saat hujan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Pemkab Mamuju Beri Respons
Menanggapi kejadian itu, Kepala Dinas Kesehatan Mamuju, dr. Ernawati, menyatakan pihaknya akan segera meninjau lokasi dan mengupayakan peningkatan layanan kesehatan di daerah terpencil.
“Kami prihatin atas kejadian ini. Kami akan koordinasikan dengan Dinas PUPR untuk mencari solusi terkait akses jalan agar warga tidak lagi kesulitan mendapatkan layanan kesehatan,” jelasnya.
Peristiwa yang viral di media sosial ini menjadi pengingat akan masih sulitnya akses kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil Mamuju. Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong warga menjadi penyelamat nyawa.








