News Mamuju — Warga Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, mengeluhkan perbedaan harga beras kemasan di sejumlah minimarket yang jauh lebih mahal dibandingkan harga di pasar tradisional.
Pantauan di beberapa minimarket pada Jumat (17/10/2025), harga beras kemasan 5 kilogram seperti Anak Raja dijual dengan harga mencapai Rp105 ribu, sementara di pasar tradisional beras dengan merek dan kualitas serupa hanya berkisar Rp85 ribu.

Selisih harga sekitar Rp20 ribu tersebut menjadi perhatian masyarakat, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Di pasar harganya masih Rp85 ribu, tapi di minimarket bisa sampai Rp105 ribu. Padahal mereknya sama. Ini cukup memberatkan, apalagi bagi warga dengan penghasilan pas-pasan,” kata Rahma (37), warga Rimuku.
Minimarket Alasan Biaya Operasional dan Distribusi
Sementara itu, salah satu pengelola minimarket di Mamuju yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa perbedaan harga terjadi karena adanya biaya operasional, logistik, dan standar distribusi nasional yang membuat harga barang di ritel modern tidak bisa disamakan dengan pasar tradisional.
Baca Juga : Bripda TW Pelaku Penganiayaan di Mamuju Ditangkap Polisi Janji Tak Ada Toleransi
“Produk yang masuk ke jaringan ritel melewati sistem distribusi resmi dan pengemasan ulang dengan standar tertentu. Jadi harganya bisa sedikit lebih tinggi,” ujarnya.
Namun demikian, warga tetap berharap agar pemerintah daerah melakukan pengawasan harga bahan pokok di semua jalur distribusi agar tidak terjadi kesenjangan harga yang terlalu besar antara pasar rakyat dan ritel modern.
Disperindag Akan Turun Lakukan Pemantauan Harga
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Mamuju, Muh. Arifin, menyatakan pihaknya akan segera menurunkan tim untuk memantau harga beras di sejumlah minimarket dan pasar tradisional.
“Selisih harga Rp20 ribu cukup signifikan dan bisa memicu inflasi lokal jika tidak dikendalikan. Kami akan panggil perwakilan minimarket untuk memastikan harga jual masih sesuai ketentuan,” tegas Arifin.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga bahan pokok melalui kerja sama dengan Bulog dan para distributor lokal, termasuk rencana operasi pasar jika diperlukan.
Pasar Tradisional Masih Jadi Pilihan Warga
Di sisi lain, para pedagang di pasar tradisional mengaku tetap menjaga harga agar tidak memberatkan pembeli. Mereka berharap masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar rakyat karena selain lebih murah, uang yang berputar juga langsung membantu ekonomi lokal.
“Kalau di pasar, harga bisa dinego dan kualitas beras bisa dilihat langsung. Kami juga jual dari petani lokal, jadi harga lebih stabil,” kata Hasan, pedagang beras di Pasar Lama Mamuju.
Pemerintah Diminta Awasi Harga Menjelang Akhir Tahun
Dengan meningkatnya aktivitas konsumsi menjelang akhir tahun, masyarakat berharap Pemkab Mamuju dan Satgas Pangan lebih aktif melakukan pengawasan terhadap harga bahan pokok, khususnya beras, minyak goreng, dan gula.
“Kami khawatir kalau tidak diawasi, nanti makin banyak harga yang melonjak tanpa alasan jelas,” ujar Rahma.
Disperindag berjanji akan memperketat pemantauan harga setiap pekan guna memastikan harga bahan pokok tetap terjangkau dan pasokan stabil di wilayah Mamuju.








