News Mamuju – Dunia pendidikan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, digegerkan oleh insiden tak terduga. Seorang mahasiswa nekat menodongkan parang kepada staf dosen setelah ditegur karena kedapatan pacaran di dalam kelas. Kejadian ini sontak menimbulkan kepanikan di lingkungan kampus dan menuai sorotan publik.

Teguran Berujung Emosi
Peristiwa terjadi pada Kamis (25/9/2025) ketika seorang staf dosen menegur mahasiswa berinisial R yang kedapatan bermesraan dengan pasangannya di ruang kuliah. Tak terima dengan teguran tersebut, R meninggalkan kelas dan kembali dengan membawa sebilah parang. Ia kemudian mengancam staf dosen tersebut di hadapan mahasiswa lain.
Baca Juga : OTK Acak-acak Tempat PlayStation Usai Bentrok 2 Pemuda di Polman
“Situasi sempat tegang, mahasiswa lain panik dan berusaha menenangkan pelaku. Untungnya tidak ada korban fisik,” ujar salah satu saksi mata.
Tindakan Kampus dan Polisi
Pihak kampus segera melaporkan insiden ini kepada pihak berwajib. Polisi yang menerima laporan langsung bergerak cepat dan mengamankan pelaku beserta barang bukti parang yang digunakan.
Kapolres Mamuju menegaskan bahwa tindakan membawa dan menodongkan senjata tajam di lingkungan pendidikan merupakan pelanggaran serius. “Kami akan memproses kasus ini sesuai hukum yang berlaku. Lingkungan kampus harus aman dari segala bentuk kekerasan,” tegasnya.
Reaksi Masyarakat dan Akademisi
Insiden ini memicu keprihatinan banyak pihak. Para akademisi menilai kejadian tersebut menjadi alarm penting untuk memperkuat pembinaan karakter mahasiswa sekaligus meningkatkan sistem keamanan kampus.
“Kampus adalah ruang belajar, bukan tempat untuk aksi kekerasan. Semua pihak harus bekerja sama agar peristiwa serupa tidak terulang,” ujar seorang dosen senior di Mamuju.
Penutup
Kasus mahasiswa menodongkan parang di Mamuju menyoroti pentingnya pengendalian emosi, disiplin, serta pengawasan ketat di dunia pendidikan. Dengan langkah tegas dari aparat hukum dan evaluasi internal kampus, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh civitas akademika.








