News Mamuju – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Barat terus menunjukkan komitmennya dalam membina warga binaan pemasyarakatan. Melalui program pelatihan keterampilan produktif, narapidana dibekali kemampuan kerja yang bermanfaat agar lebih siap kembali ke masyarakat setelah bebas.

Program pelatihan yang digelar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Mamuju ini diikuti puluhan narapidana dari berbagai latar belakang kasus. Mereka mendapatkan pembinaan keterampilan mulai dari bidang pertanian, perikanan, hingga keterampilan teknis seperti pertukangan dan kerajinan tangan.
Baca Juga : Sebanyak 98 Puskesmas di Sulbar Layani Cek Kesehatan Gratis
Fokus pada Pembinaan dan Reintegrasi Sosial
Kepala Kanwil Kemenkumham Sulbar menegaskan bahwa tujuan utama dari pelatihan ini bukan hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga membentuk mental positif bagi warga binaan. Dengan bekal keterampilan, narapidana diharapkan mampu hidup mandiri dan tidak kembali melakukan pelanggaran hukum.
“Pembinaan ini adalah bentuk nyata dari upaya reintegrasi sosial. Kami ingin para warga binaan memiliki kepercayaan diri ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Ragam Keterampilan Sesuai Potensi Daerah
Pelatihan yang diberikan menyesuaikan dengan potensi lokal Sulawesi Barat. Misalnya, warga binaan dilatih budidaya ikan air tawar, pembuatan pupuk organik, hingga keterampilan menganyam. Potensi tersebut dinilai relevan dengan peluang usaha di daerah sehingga lebih mudah diaplikasikan setelah bebas.
Selain itu, Ditjenpas juga melibatkan instruktur profesional dan mitra kerja dari Dinas Tenaga Kerja serta Dinas Pertanian. Dengan begitu, keterampilan yang diajarkan bukan sekadar teori, tetapi benar-benar bisa menjadi modal usaha.
Dorong Kemandirian Ekonomi
Program keterampilan produktif ini diharapkan mampu mengurangi stigma negatif terhadap mantan narapidana. Mereka bisa membuka usaha kecil, bergabung dengan kelompok usaha, atau bahkan menjadi tenaga kerja yang siap pakai.
“Dengan keterampilan ini, mereka punya alternatif pekerjaan setelah keluar dari lapas. Ini langkah penting untuk mencegah residivisme,” tegas salah satu instruktur pelatihan.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Ditjenpas Sulbar juga mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dalam menerima mantan narapidana. Pemerintah daerah dan stakeholder terkait diharapkan ikut mendukung program pembinaan dengan menyediakan akses pemasaran hasil karya warga binaan.
Produk-produk buatan narapidana, seperti kerajinan tangan dan kuliner, telah beberapa kali dipamerkan dalam bazar lokal. Hal ini menjadi bukti bahwa hasil pembinaan bisa memberikan nilai ekonomi nyata.
Kesimpulan
Program pelatihan keterampilan produktif oleh Ditjenpas Sulbar menjadi langkah strategis dalam membekali narapidana dengan kemampuan kerja dan mental positif. Dengan dukungan berbagai pihak, pembinaan ini diharapkan mampu menyiapkan mereka menjadi individu mandiri, produktif, dan bermanfaat ketika kembali ke masyarakat.








